Makna Ritual “SASI” Bagi Warga di Kampung Wauna
Ritual “Sasi” dengan menancapkan batas lokasi pencarian ikan dengan menggunakan batang pohon kayu besi pantai (suang teka) adalah ritual yang dianggap suci dan sakral. Siapa yang mencabut atau melanggar bisa fatal akibatnya. Seperti apa ritual tersebut?
SASI tentunya tidak asing lagi di pendenganran rumpun masyarakat yang berada di pesisir pantai utara yakni suku Tepera, Distrik Depapre, Kab. Jayapura, terutama pada 3 kampung yakni Tablanusu, Tablasupa, dan Wauna. Ritual Sasi sendiri dikenal masyarakat dengan salah satu ritual adat yang diselenggarakan untuk menyambut suatu acara adat.
Dimana Ritual Sasi adalah pemberian tanda sacral berupa penancapan sebuah dahan pohon kayu besi pantai (suang teka), di tempat-tempat terumbu karang (rep) yang merupakan sarang ikan, dimana tanda tersebut dimaksud agar masyarakat tidak mencari ikan di sepanjang areal tersebut. Ritual Sasi sudah dikenal masyarakat Kampung Waiya sejak nenek moyangnya yang diturunkan secara turun temurun.
Ritual Sasi pun tidak dapat dilakukan oleh semua orang. Sasi hanya dilakukan oleh suku yang telah dipercayakan sesuai tatanan adat. Di Kampung Wauna Suku Nerotouwmerupakan suku yang dipercayakan untuk menggelar ritual Sasi, sesuai tugas dan fungsinya di bidang ekonomi adat. Kampung Wauna sendiri mempunyai 2 suku lainnya yang mempunyai tugas adat lainnya yakni suku Demetouw sebagai Panglima Perang dan suku Yarisetouw sebagai Ondoafi (Raja).
Kini suku Nerotouw yang merupakan penyelenggara ritual Sasi hanya memiliki 1 juru kunci penyelenggara Sasi yakni Leonard Nerotouw, namun Leonard mempunyai beberapa anak yang sering membantunya dalam menyelenggarakan ritual Sasi masing-masing Yakob, Carles, Meky, Manuel dan Viktor.
Lamanya ritual Sasi juga bervariasi, sesuai perintah dari Ondoafi, dimana ritual Sasi bias berlangsung selama sebulan bahkan setahun. Dalam melakukan ritual Sasi, harus memiliki kekuatan alam lainnya (kekuatan magic), agar dalam melakukan penancapan “Suang Teka” telah ditaburi dengan mantera-mantera (fui-fui).
Apabila dalam ritual Sasi ada warga yang mencoba-coba melanggar larangan tersebut dengan mencari ikan di sekitar areal tersebut, maka dirinya akan ditimpa berbagai penyakit, seperti kudisan, penyakit dalam yang berakibat muntah darah, tubuh mengalami benjol-benjol, bahkan dapat mengarah kepada kematian.
Warga yang telah melanggar ritual Sasi mempunyai waktu toleransi 2 hingga 3 hari untuk segera menemui orang yang melakukan ritual Sasi (suku Nerotouw), untuk mengakui kesalahannya dan mendapatkan penawar dari mantera yang telah diletakkan di areal ritual Sasi.
Sepanjang sejarah adat ritual Sasi di Kampung Wauna ada sejumlah warga yang pernah kedapatan melanggar larangan pada ritual Sasi, terakhir terjadi di tahun 2006, bahkan ada juga yang sempat meninggal dunia, anmun itu terjadi pada beberapa tahun lalu. Hal tersebut seperti disampaikan oleh salah seorang perdana menteri (Yarona) Yohan Demetouw yang merupakan pembawa pesan Ondoafi kepada suku Nerotouw untuk melakukan ritual Sasi.
“Terakhir terjadi di tahun 2006, waktu dulu-dulu ada juga yang sempat mati”, tutur kakek berusia 70 tahun ini.
Setelah batas waktu ritual Sasi yang diberikan usai, maka orang yang ditugaskan untuk menancapkan palang kayu “Suang Teka” segera mencabutnya sekalian dengan mantera-manteranya, dan seluruh warga akan turun ke tempat tersebut memanen ikan hingga jumlah yang tak terhingga, dengan cara membuat racun dari sejenis tanaman (akar tuba) di areal yang pernah dibuat Sasi. Kampung Wauna sendiri mempunyai 2 lokasi pembuatan ritual Sasi yakni daerah Opauw dan Yaya.
Sumber: Cenderawasih Pos Tgl. 30 April 2008



We have to stop and be humble enough to understand that there is something called mystery.
February 22nd, 2011 at 4:09 amMy brother recommended I might like this website. He was totally right. This post actually made my day. You cann’t imagine just how much time I had spent for this information! Thanks!
March 10th, 2011 at 1:04 am